Sumber Asli -- C0I -Kegagalan tim bulutangkis Indonesia di Kejuaraan Dunia 2014 yang berakhir akhir Agustus lalu menjadi perhatian serius bagi PP PBSI. Satu medali perunggu yang dibawa pulang lewat tunggal putra Tommy Sugiarto tidak memenuhi target, karena sejak semula PP PBSI mematok target dua gelar juara.
Terlepas dari tidak berangkatnya dua pasangan andalan Indonesia yang dijadikan target, yakni pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan dan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, toh kalau target tidak tercapai orang tetap menganggapnya gagal.
Ketua Umum PP PBSI Gita Wirjawan jelas gamang melihat kondisi tersebut. Itu sebabnya, begitu sampai di Jakarta, istirahat sejenak para pengurus diajak untuk melakukan evaluasi.
Pada acara ini juga hadir Achmad Budiharto (Wakil Sekretaris Jenderal PP PBSI), Rexy Mainaky (Kabid Binpres PP PBSI), Ricky Soebagdja (Kasubid Pelatnas PP PBSI), Joseph Halim (Kabid Dana Usaha dan Keanggotaan PP PBSI) serta Lius Pongoh (Manajer Tim Indonesia di Kejuaraan Dunia 2014.
“Pada rapat evaluasi ini, kami berdiskusi mengenai hasil yang dicapai para atlet di kejuaraan dunia. Dari hasil ini akan diambil langkah-langkah untuk memperbaiki kekurangan apa saja yang perlu diperbaiki. Hal ini dimaksudkan agar mereka dapat meningkatkan penampilan dan meraih hasil yang lebih baik pada ajang selanjutnya, Asian Games 2014,” ujar Gita Wirjawan.
Absennya Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan membuat Indonesia melakukan target peralihan kepada Tommy Sugiarto (tunggal putra) dan Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari (ganda putri). Namun hanya Tommy yang berhasil mempersembahkan medali perunggu, sedangkan Greysia/Nitya terhenti di babak delapan besar.
“Kami memang mengharapkan dua wakil bisa lolos ke final, yaitu Greysia/Nitya dan Tommy. Sebenarnya kalau Tommy tidak mengalami kejadian terpeleset, dia bisa saja mencapai targetnya. Turning poinnya adalah saat kejadian tersebut, fokusnya hilang. Padahal sebelumya poin demi poin dapat dari game planning yang bagus,” komentar Rexy soal evaluasi penampilan pemain Indonesia.
Untuk di ganda putri, Rexy sangat menyayangkan Greysia/Nitya kalah dari pemain Jepang. Menghadapi pemain Jepang memang menjadi pekerjaan rumah buat ganda putri Indonesia. Bukan cuma teknik, tapi yang penting pemain punya kesabaran kalau menghadapi pemain Jepang. Dan saat game kedua, Greysia/Nitya kehilangan fokus yang menyebabkan mereka kalah.
Menurut Rexy, penampilan tim Indonesia tak dapat sepenuhnya dibilang gagal total. Sejumlah pemain pelapis sempat unjuk gigi di kejuaraan ini. Sebut saja pasangan Anggia Shitta Awanda/Della Destiara Haris yang mengejutkan publik di stadion Ballerup Super Arena dengan mengalahkan unggulan pertama, Bao Yixin/Tang Jinhua (China).
Begitu juga dengan pasangan Praveen Jordan/Debby Susanto juga tampil baik dengan menyulitkan unggulan ketiga yang juga pemain tuan rumah, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen.
“Kami memang belum berhasil menempatkan dua finalis, tetapi kalau dibilang gagal total ekstrim sekali. Secara keseluruhan ada yang lain dari penampilan tim kami. Saat di Copenhagen saya sempat mendapat tanggapan positif dengan perkembangan pemain-pemain Indonesia dari para pelatih negara lain. Ini adalah feedback dari orang lain, tanpa kita membangga-banggakan hasil yang kita capai,” kilah Rexy.
Rexy mengatakan bahwa hasil evaluasi ini akan menjadi bahan pembelajaran bagi para atlet yang akan segera berangkat ke Incheon, Korea, untuk mengikuti kejuaraan Asian Games 2014 19 September – 4 Oktober mendatang.
========= Dukungan untuk Cinta Olahraga Indonesia bisa dikirimkan langsung melalui: BANK BCA KCP PALMERAH NO REKENING 2291569317 BANK MANDIRINO REKENING 102-00-9003867-7 =========
Terlepas dari tidak berangkatnya dua pasangan andalan Indonesia yang dijadikan target, yakni pasangan ganda putra Hendra Setiawan/Muhammad Ahsan dan ganda campuran Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, toh kalau target tidak tercapai orang tetap menganggapnya gagal.
Ketua Umum PP PBSI Gita Wirjawan jelas gamang melihat kondisi tersebut. Itu sebabnya, begitu sampai di Jakarta, istirahat sejenak para pengurus diajak untuk melakukan evaluasi.
Pada acara ini juga hadir Achmad Budiharto (Wakil Sekretaris Jenderal PP PBSI), Rexy Mainaky (Kabid Binpres PP PBSI), Ricky Soebagdja (Kasubid Pelatnas PP PBSI), Joseph Halim (Kabid Dana Usaha dan Keanggotaan PP PBSI) serta Lius Pongoh (Manajer Tim Indonesia di Kejuaraan Dunia 2014.
“Pada rapat evaluasi ini, kami berdiskusi mengenai hasil yang dicapai para atlet di kejuaraan dunia. Dari hasil ini akan diambil langkah-langkah untuk memperbaiki kekurangan apa saja yang perlu diperbaiki. Hal ini dimaksudkan agar mereka dapat meningkatkan penampilan dan meraih hasil yang lebih baik pada ajang selanjutnya, Asian Games 2014,” ujar Gita Wirjawan.
Absennya Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan membuat Indonesia melakukan target peralihan kepada Tommy Sugiarto (tunggal putra) dan Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari (ganda putri). Namun hanya Tommy yang berhasil mempersembahkan medali perunggu, sedangkan Greysia/Nitya terhenti di babak delapan besar.
“Kami memang mengharapkan dua wakil bisa lolos ke final, yaitu Greysia/Nitya dan Tommy. Sebenarnya kalau Tommy tidak mengalami kejadian terpeleset, dia bisa saja mencapai targetnya. Turning poinnya adalah saat kejadian tersebut, fokusnya hilang. Padahal sebelumya poin demi poin dapat dari game planning yang bagus,” komentar Rexy soal evaluasi penampilan pemain Indonesia.
Untuk di ganda putri, Rexy sangat menyayangkan Greysia/Nitya kalah dari pemain Jepang. Menghadapi pemain Jepang memang menjadi pekerjaan rumah buat ganda putri Indonesia. Bukan cuma teknik, tapi yang penting pemain punya kesabaran kalau menghadapi pemain Jepang. Dan saat game kedua, Greysia/Nitya kehilangan fokus yang menyebabkan mereka kalah.
Menurut Rexy, penampilan tim Indonesia tak dapat sepenuhnya dibilang gagal total. Sejumlah pemain pelapis sempat unjuk gigi di kejuaraan ini. Sebut saja pasangan Anggia Shitta Awanda/Della Destiara Haris yang mengejutkan publik di stadion Ballerup Super Arena dengan mengalahkan unggulan pertama, Bao Yixin/Tang Jinhua (China).
Begitu juga dengan pasangan Praveen Jordan/Debby Susanto juga tampil baik dengan menyulitkan unggulan ketiga yang juga pemain tuan rumah, Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen.
“Kami memang belum berhasil menempatkan dua finalis, tetapi kalau dibilang gagal total ekstrim sekali. Secara keseluruhan ada yang lain dari penampilan tim kami. Saat di Copenhagen saya sempat mendapat tanggapan positif dengan perkembangan pemain-pemain Indonesia dari para pelatih negara lain. Ini adalah feedback dari orang lain, tanpa kita membangga-banggakan hasil yang kita capai,” kilah Rexy.
Rexy mengatakan bahwa hasil evaluasi ini akan menjadi bahan pembelajaran bagi para atlet yang akan segera berangkat ke Incheon, Korea, untuk mengikuti kejuaraan Asian Games 2014 19 September – 4 Oktober mendatang.
- ***
========= Dukungan untuk Cinta Olahraga Indonesia bisa dikirimkan langsung melalui: BANK BCA KCP PALMERAH NO REKENING 2291569317 BANK MANDIRINO REKENING 102-00-9003867-7 =========
-->
0 komentar:
Posting Komentar